Semarak Hari Bhayangkara Ke 76, Polres Nagan Raya Laksanakan Lomba Kesenian Daerah Tari Rateb Meusekat.

Tribratanewspolresnaganraya.com- Kapolres Nagan Raya AKBP Setiyawan Eko Prasetiya, S.H.,S.I.K. membuka lomba kearifan lokal Tari Rateb Meusekat dalam rangka HUT ke 76 Bhayangkara, kegiatan ini berlangsung di Gedung Aula bharadaksa Mapolres Nagan Raya, Rabu (22/06/2022).

Kapolres melalui Kasi Humas, Akp Asril mengatakan, dalam kegiatan lomba ini sebanyak 6 tim dari perwakilan kecamatan di wilayah hukum Polres Nagan Raya.

“Kegiatan ini merupakan lomba kearifan lokal memeriahkan HUT ke 76 Bhayangkara, selain itu tujuannya juga untuk melestarikan adat dan budaya Aceh, khususnya Di Kabupaten Nagan Raya,” ujarnya.

Kesenian Tari Rateb Meuseukat menjadi pertunjukan kebudayaan yang ada Diaceh. Teuku Muhammad Thalib, seorang ulama yang memperkenalkannya kepada masyarakat pada abad ke 19.

Ulama tersebut merupakan seorang pemimpin di Kila, Seunagan, Kabupaten Nagan Raya, sebuah pendidikan dengan latar belakang agama Islam. Sebelum menjadi seperti ini, sebenarnya aktivitasnya hanya berdzikir saja, tetapi memiliki irama.

Hal ini dilakukan bersama dengan para murid demi mengusir kebosanan dan kejenuhan selama belajar. Teuku Muhammad Thoib sendiri mempelajari Islam dari seorang filosof serta ulama besar dari Irak namanya adalah Ibnu Miskawaih.

Bukan hanya pelajaran agama islam saja yang diberikan, gurunya tersebut juga memberikan berbagai ilmu dakwah, yang dipadukan dengan kesenian, sebagai percabangan dari ilmu pengetahuan itu sendiri.

Hal ini akhirnya diajarkan pula kepada seluruh muridnya, untuk penamaannya sendiri, merupakan gabungan dari dua kata yaitu, Rateb aktivitasnya adalah berzikir tetapi, memiliki irama atau dinyanyikan.

Kedua adalah meuseukat, berasal dari kata sakat artinya mampu memusatkan pikiran serta raga dari dan kepada Tuhan. Beberapa pendapat lain meuseukat merupakan nama guru atau pelopor dari tarian tersebut.

Berawal dari sebuah kesenian pengajian sekarang sudah berkembang menjadi pertunjukkan tari rakyat yang menarik untuk disimak. Jumlah penari yang dibutuhkan sebenarnya, tidak terbatas. Hanya saja, minimal ada 10 orang.

Tetapi, berbagai sumber mengatakan mereka harus berjumlah ganjil, dimana mencerminkan langit dan bumi ini menurut kepercayaan hanya berjumlah satu saja. Dengan kondisi tersebut, besar kemungkinan bila ada pemain yang lelah, mereka dapat diganti.

Pada formasi awal mereka akan duduk berbanjar, sementara pemimpin atau disebut dengan syekh berada di tengah. Ada salam pembuka oleh syahi, kemudian mengucapkan berbagai sajak pilihan terdiri dari sholawat.

Bisa juga dengan tema lainnya yaitu kisah Husein dan Hasan hingga berbagai pendidikan. Syekh disini bertugas mengatur jalannya gerakan serta pola. Dimana, dalam gerakan tersebut adanya pengulangan seperti horizontal, selang-seling, menunduk, hingga gerakan ombak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *